Bulutangkis Olimpiade Tokyo: Wahyana, Guru SMP Gunungkidul di Final Tunggal Putri Olimpiade 2020

0
223

Ragasportnews.com – Salah satu anak wilayah Gunungkidul, DIY, Wahyana (53), mengikuti bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020. Bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai arbiter.

Laga terakhir tunggal putri di Olimpiade Tokyo 2020 dimotori oleh wasit atau arbiter utama asal Indonesia, Wahyana. Ia adalah instruktur permainan di SMP 4 Patuk, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Baca juga : Bulutangkis Olimpiade Tokyo: Menpora Jelaskan soal Kabar Bonus Greysia/Apriyani Rp 5 M

Wahyana berpesan, perjalanannya menjadi arbiter papan atas sangat panjang. Sejak awal, ia mengincar permainan bola voli, bahkan menjadi individu dari kru bola voli DIY.

Namun, karena cedera kaki bagian bawah yang sebenarnya, Wahyana akhirnya memutuskan untuk menghentikan jagat bola voli. Apalagi, Wahyana memutuskan untuk mengincar permainan bulutangkis, bukan sebagai kompetitor melainkan sebagai wasit.

Dari tahun 1998 hingga 2000, Wahyana menjadi hakim garis di setiap pertandingan bulu tangkis. Tak hanya itu, ia mengikuti uji kemampuan di tingkat DIY dengan hasil terbaik.

“Kemudian, saat itu ditumbuhkan lagi di tingkat publik dan Asia. Memang di tingkat publik An saya mendapatkan prestasi terbaik,” ujarnya saat dihubungi kolumnis, Selasa (3/8/2021).

“Selain itu, saya diberangkatkan mengikuti Akreditasi Asia di Kuala Lumpur tahun 2006. Kemudian dilanjutkan dengan Sertifikasi Asia di Johor,” lanjut Wahyana.

Yang juga merangkap Wakil Kepala Sekolah bidang perencanaan pendidikan itu melanjutkan, hal ini membuat kemampuannya memimpin pertandingan bulu tangkis terus berkembang. Memang, hingga akhirnya ia berubah menjadi seorang arbiter yang harus ditangani di lapangan dunia.

“Dari situ saya kembali mengikuti Akreditasi BWF dan mendapat konfirmasi atau izin paling tinggi di tahun 2016,” ujarnya.

Perkenalannya di dunia perwasitan Badminton semakin dipertimbangkan oleh kancah dunia. Karena jam terbang dalam peminat pertandingan juga semakin tinggi, hingga akhirnya ia ditetapkan menjadi wasit pertandingan terakhir tunggal putri bulu tangkis di Olimpiade Tokyo 2020.

“Dari 36 wasit, ada 11 orang dari Asia dan saya satu-satunya dari Indonesia yang dipercaya memimpin pertandingan tunggal putri berebut medali emas,” ujarnya.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Wahyana menjadi wasit terakhir, mengingat ia telah memimpin pertandingan bulu tangkis di SEA Games, Asean Games, Kejuaraan Dunia, Paralimpiade, Piala Sudirman, Piala Thomas, Tur Dunia. Final dan lain-lain.

Sejujurnya, pria yang lahir pada September 1967 itu mengatakan, sejauh ini dirinya telah mengunjungi 77 negara di dunia untuk memimpin pertandingan. Bagaimanapun, menjadi arbiter bulu tangkis di Olimpiade melibatkan kebanggaan baginya.

Selain itu, sebagai pengurus PBSI di Jakarta ia juga memiliki program untuk mencetak arbiter-arbiter muda dari seluruh Indonesia. Menurut Wahyana, program tersebut secara bertahap mulai berjalan, dengan mempertimbangkan minat yang besar untuk menjadi arbiter muda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here